Profile 2017-06-05T02:27:50+00:00

Ratnawati Sutedjo

Bermula dari awal tahun 2001, Tuhan ijinkan saya mengalami sakit dan saya harus istirahat selama 2 bulan, tanpa melakukan pekerjaan apapun, karna kondisi saya lemas waktu itu.

Terbesit di pikiran saya waktu itu, rasa tidak berharga dalam hidup, karna saya memiliki anggota tubuh lengkap tapi tiba-tiba tidak bisa melakukan pekerjaan apapun. Saat saya merenungkan kondisi saya waktu itu, tiba tiba saya teringat akan orang orang yang memiliki kondisi fisik tidak sempurna (atau cacat – penyembutan saat itu, dan saat ini kita menyebutkan disabilitas), mereka dengan kondisi fisik disabilitas pasti merasa hidup yang tidak berharga dan tidak berarti juga seperti yang saya rasa waktu itu. Akhirnya saya berjanji jika saya sembuh saya ingin mengenal dunia disabilitas.

Pengetahuan saya akan dunia disabilitas saat itu nol, karna saya tidak pernah bersentuhan dengan dunia disabilitas sebelumnya.

Perjalan dalam Panggilan

Langkah pertama yang saya lakukan waktu itu adalah belajar bahasa isyarat, dan mulai dengan menceritakan kepada sahabat dan juga orang orang yang saya temui tentang kerinduan yang saya miliki untuk bergaul dan berteman dengan orang disabilitas.

Ternyata diantara yang saya temui dan ceritakan ada yang memiliki tetangga disabilitas dan juga adik Tuna rungu (tidak bisa mendengar). Inilah awal dari pelayanan saya.

Saya datang ke rumah mereka dan menjeput mereka untuk bisa berinteraksi dengan dunia luar dan juga memiliki pengalaman baru, bertemu dengan anak anak lainnya.

Rumah Inspirasi

Masih ada angan-angan yang tersimpan dalam hati saya, yakni untuk membuat Rumah Inspirasi untuk workshop Precious One. Workshop ini semua orang tuna rungu yang bekerja menghasilkan karya yang bisa diterima oleh masyarakat. Mereka pantas berbangga, karena mereka punya kelebihan, sehingga dari sini kepercayaan diri mereka bisa tumbuh. Workshop ini juga berguna bagi orangtua dari anak-anak normal yang datang menghadiri workshop ini agar lebih mensyukuri keadaan anak-anak mereka. Sedangkan untuk anak-anak normal yang menghadirinya, mereka dididik untuk tidak menghina teman-teman mereka yang difabel. Mereka belajar untuk berempati, belajar menempatkan diri di situasi orang lain.

Dalam workshop ini seorang anak normal yang diberi kesempatan untuk melakukan refleksi diri dengan cara menutup mata selama beberapa menit, membayangkan dirinya tidak bisa melihat, kemudian menulis, “Kalau saya tidak bisa melihat, saya akan sedih sekali karena tidak bisa melihat wajah Papa dan Mama.” Ini adalah sebuah pengalaman yang membukakan pikirannya. Dari pengalaman ini ia bisa belajar untuk lebih mensyukuri keadaan dirinya dan menghargai kehidupan.

Rumah Inspirasi sepantasnya bisa benar-benar menjadi sumber inspirasi untuk semua orang yang datang. Di sini, kami ingin menyampaikan value bahwa, “hidup adalah perjuangan.” Foto-foto orang-orang difabel namun telah meraih sukses akan dipasang di sana. Ini semua dilakukan dengan harapan bahwa orang-orang yang datang bisa melihat secara langsung produknya dan memilikinya.

Di Precious One, kami melatih orang-orang Tuna Rungu untuk bekerja dan membuat produk yang bermutu. kami mengajarkan kepada mereka tentang mentalitas kerja yang benar, untuk membentuk sikap, hati, dan cara yang benar dalam bekerja.

Pengalaman mengajarkan saya

Ketika Tuhan memberi kita visi, maka kita harus berani melangkah. Saat kita melakukan langkah awal yang kecil, Tuhan akan membukakan jalan berikutnya. Tetapi sebaliknya jika kita tidak pernah berani melangkah, maka kita tidak akan tau langkah apa selanjutkan yang harus kita ambil.

Kita juga harus berani untuk menceritakan tentang visi yang Tuhan telah letakkan dalam hidup kita dan  harus kuat dengan janji Tuhan. Kita harus berpegang pada apa yang kita yakin bahwa itu datangnya dari Tuhan. Mengapa? karena saat kita yakin, maka masalah apa pun yang kita hadapi akan kita lewati. Tapi jika kita sendiri tidak yakin maka kita juga sulit untuk meyakinkan orang lain.

Dunia disabilitas tak pernah terpikir sebelumnya oleh saya, sampai akhirnya Precious Family, Precious One, I Can do bisa lahir dan menjadi salah satu jawaban bagi kehidupan mereka.

Saya pernah merenungkan ….

Seandainya dulu saya menyerah karna tidak ada dukungan dari keluarga.

Seandainya dulu saya menyerah karna saya memulai Precious One seorang diri.

Seandainya dulu saya menyerah karna pernah ditolak saat memperkenalkan karya disabilitas.

Banyak alasan untuk saya bisa menyerah pada keadaan dan juga situasi, tapi saya selalu ingat hidup harus menjadi makna bagi kehidupan orang lain. Don’t Give Up too Soon, temukan makna hidupmu bagi orang lain.